#

Cara Orang Tua Menjaga Remaja dari Paparan Negatif Sosial Media

#admin 15 May 2023

Oleh: Khadijah Auliaur Rohmaani, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Peran orang tua dalam pengasuhan anak di era teknologi seperti saat ini menjadi lebih menantang daripada era sebelum teknologi berkembang pesat. Hal ini utamanya dirasakan oleh orang tua yang memiliki anak berusia remaja. Kita dapat melihat dari kepemilikan gadget pribadi (bisa berupa HP, laptop, tablet, bahkan headphone) untuk remaja sebagai hal yang lumrah. Bahkan rasanya seperti ketinggalan zaman ketika orang tua tidak mampu memberikan akses gadget pada anaknya. Didukung juga dengan situasi pandemi COVID-19 yang membuat anak-anak terbiasa menggunakan gadget secara intens untuk mendukungnya melakukan pembelajaran jarak jauh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak, terutama di usia remaja, lebih cepat mengikuti perkembangan teknologi dan berbagai aplikasi yang ada di gadget dibandingkan orang tuanya. Hal ini juga yang dapat menjadi sumber berbagai konflik orang tua dan remaja. Menurut Pakar Perkembangan Psikososial Erik Erikson, remaja di usia 11-18 tahun sedang berada pada tahap pembentukan identitas diri. Oleh sebab itu, remaja akan lebih banyak mencari tahu dunia luar, membangun hubungan sosial yang luas, dan mulai menjauh dari orang tuanya.

Kemudahan akses informasi yang seringkali didapatkan dari paparan berbagai media sosial oleh remaja semakin melebarkan perbedaan pandangan antara orang tua dan remaja. Mulai muncul perbedaan value yang dimiliki remaja dengan yang ditanamkan orang tuanya dan menurunnya kepercayaan remaja pada orang tua. Misalnya, remaja mengidolakan boyband/girlband tertentu sehingga abai dengan pekerjaan rumah, remaja lebih familiar dengan berbagai istilah kesehatan mental sedangkan orang tua masih menganggap tabu, atau remaja mulai terbuka dengan LGBTQ+ dan orang tua cenderung lebih tertutup ketika mendiskusikan hal tersebut.

Lalu, bagaimana cara orang tua menjaga remaja dari paparan negatif sosial media dan akses informasi yang sangat cepat seperti saat ini?

  1. Menjadi teman

Orang tua terbiasa berperan sebagai ‘sosok yang lebih berkuasa’ di rumah. Hal tersebut yang umumnya membuat remaja merasa tidak dipahami dan sulit bersikap terbuka pada orang tuanya. Oleh sebab itu, orang tua perlu menjadi teman untuk remaja agar hubungan keduanya lebih nyaman untuk saling berbagi cerita atau pengalaman masing-masing. Orang tua bisa memulai dengan lebih dulu mengungkapkan perasaan, pikiran, dan keinginannya kepada anak ketika anak melakukan sesuatu yang tidak diharapkannya dibandingkan langsung meluruskan dengan perintah dan intonasi yang tidak bersahabat.

  1. Menunjukkan Rasa Ingin Tahu

Ketika orang tua tahu remaja mulai memiliki pandangan atau value berbeda dengan yang selama ini sudah ditanamkan di dalam keluarga, orang tua perlu lebih dulu mengelola emosinya sebelum melakukan konfrontasi pada anak. Setelah itu, orang tua dapat bertanya kepada anak dengan menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus tentang apa yang dipikirkan dan dipahami anak tentang topik tersebut. Orang tua perlu menahan diri agar tidak langsung memberi nasihat pada anak tetapi berusaha membuat ruang diskusi sehingga pada akhirnya terdapat kesimpulan yang tepat dari pandangan masing-masing.

  1. Tidak Memberi Hukuman

Ketika orang tua tidak setuju dengan perilaku atau kesalahan yang dilakukan remaja, orang tua sebaiknya tidak memberi hukuman. Orang tua dapat mengajarkan anak untuk lebih bertanggung jawab dengan cara mengungkapkan perasaannya tentang perilaku anak, menyampaikan harapannya secara jelas, memberi pilihan pada anak tentang cara memperbaiki kesalahan, dan menentukan konsekuensi langsung yang sesuai dengan kesalahan untuk menunjukkan keseriusan orang tua tentang kesalahan anak.

  1. Melakukan Mediasi Aktif

Orang tua dapat membatasi remaja dalam penggunaan gadget atau akses informasi dan media sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan cara orang tua memberikan pembatasan, mediasi aktif, dan penggunaan bersama. Pembatasan dapat berupa orang tua membatasi waktu pemakaian gadget dan hanya mengizinkan menggunakan media sosial tertentu untuk remaja. Mediasi aktif dapat dilakukan dengan orang tua menjelaskan dan mengevaluasi konten media sosial yang diakses remaja lalu membuka ruang diskusi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis remaja. Penggunaan bersamaan dilakukan dengan cara orang tua selalu membersamai remaja ketika menggunakan gadget atau mengakses media sosial sehingga orang tua mengetahui secara langsung penggunaan gadget dan akses informasi yang dilakukan remaja.

  1. Melakukan Pemantauan Berkala

Orang tua perlu memantau penggunaan gadget dan akses informasi atau media sosial yang dilakukan remaja. Orang tua perlu mengetahui kapan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan remaja dalam menggunakan gadget, media sosial, termasuk apa yang remaja lakukan dengan media sosial tersebut dan dengan siapa remaja berkomunikasi. Pemantauan orang tua tersebut juga membutuhkan komunikasi aktif orang tua dan anak. Orang tua dapat meminta akses media sosial milik remaja (akun dan password), memberikan kontrol, memberlakukan aturan dan batasan atau pengawasan.

Kalau kamu ingin berdiskusi prihal dunia parenting , kamu dapat menghubungin admin bagikanceritamu.com